Minggu, 09 September 2012


JIKA AL QURAN BISA BICARA

Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku.
Dengan wudlu aku kau sentuh dalam keadaan suci.

Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari.
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari.
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra.
Sekarang engkau telah dewasa…
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku…
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah…
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu.
Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya.
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu.
Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa.
Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan.
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian.
Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.

Dulu…pagi-pagi…surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman.
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu disurau…..
Sekarang… pagi-pagi sambil minum kopi…engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV.

Waktu senggang…engkau sempatkan membaca buku karangan manusia.
Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan…
Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah-surahku (Basmalah).

Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi.
Tidak ada kaset yang berisi ayat Allah yang terdapat padaku di laci mobilmu.
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu.
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku.
Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja.

Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu.
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun.
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatku pun kadang kau abaikan.
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu.
Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku.
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV.

Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk.
Waktupun cepat berlalu… aku menjadi semakin kusam dalam lemari.
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu.
Seingatku hanya awal Ramadlan engkau membacaku kembali.
Itupun hanya beberapa lembar dariku.
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu.
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.
Apakah Koran, TV, radio, komputer, dapat memberimu pertolongan?

Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba.
Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya.
Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.

Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu…
Setiap saat berlalu… kuranglah jatah umurmu…
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu.
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu.
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.

Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati…
Di kuburmu nanti….
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan.
Yang akan membantu engkau membela diri.
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu.
Dari perjalanan di alam akhirat.
Tapi Akulah “Qur’an” kitab sucimu.
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu.

Peganglah aku lagi… bacalah kembali aku setiap hari.
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci.
Yang berasal dari Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui.
Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.

Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu…
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu.
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu.
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu.
Sentuhilah aku kembali…
Baca dan pelajari lagi aku…
Setiap datangnya pagi dan sore hari.
Seperti dulu….dulu sekali…
Waktu engkau masih kecil, lugu dan polos…
Di surau kecil kampungmu yang damai.

Jangan aku engkau biarkan sendiri…
Dalam bisu dan sepi….
Maha benar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.



Surah Al-Muddatstsir

Surah Al-Muddatstsir terdiri dari 56 ayat. Keseluruhannya disepakati turun sebelum hijrah. Bahkan ayat satu sampai dengan ayat tujuh dinilai oleh banyak ulama sebagai bagian dari wahyu-wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Ada yang berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut adalah wahyu ketiga atau keempat, bahkan ada yang berpendapat awal surah ini turun setelah turu

nnya lima ayat pertama surah Iqra’. Tetapi ini diperselisihkan oleh ulama.

Namanya “Surah Al-Muddatstsir” merupakan satu-satunya nama bagi kumpulan ayat-ayat ini. 97 Ia terambil dari ayat pertama surah ini, apapagi kata tersebut hanya ditemukan sekali dalam Al-Qur'an, yaitu dalam surah ini. Nama tersebut telah dikenal sejak masa Nabi saw.

Menyelimuti diri atau diselimuti dalam konteks ayat ini bertujuan menghilangkan rasa takut yang meliputi jiwa Nabi Muhammad saw beberapa saat sebelum turunnya ayat-ayat ini. Biasanya, bila seseorang takut, ia akan menutupi dirinya atau ia akan menggigil, dan saat itu selimut akan sangat bermanfaat. Inilah yang terjadi pada diri Nabi Muhammad saw, khususnya pada masa awal kedatangan malaikat Jibril kepada beliau.

Apa pun penyebab rasa takut beliau yang dipahami dari sebab nuzul ayat serta dari celah-celah kata “Al-Muddatstsir”, namun itu sama sekali tidak mengurangi keagungan Rasul saw. Perasaan serupa pernah dialami oleh Nabi Musa as ketika beliau melihat tongkatnya berubah menjadi ular (QS. Thaha [ 20]: 21), bahkan Nabi Musa as “lari ke belakang tanpa menoleh” (QS. An-Naml [27]: 10). Hal-hal semacam ini untuk menggambarkan bahwa para nabi, walaupun memunyai keistimewaan-keistimewaan dari segi spiritual, namun mereka tidak luput dari naluri kemanusiaan, seperti rasa takut.

Di sisi lain, tersirat pula dari kata “Wahai orang yang berselimut” rasa kasih sayang serta “kedekatan” Tuhan kepada pribadi yang diseru itu. Karena, salah satu cara yang digunakan oleh bahasa untuk menggambarkan hal tersebut adalah memanggil seseorang dengan keadaannya sewaktu ia dipanggil.

Tema dan Tujuan Utama Surah

Awal surah ini memberi tuntunan kepada Nabi Muhammad saw guna suksesnya dakwah beliau, lalu disusul dengan uraian tentang persoalan-persoalan akidah, sebagaimana halnya surah-surah yang turun sebelum hijrah. Intinya adalah keniscayaan Kiamat, surga, dan neraka, serta kaitan antara amal manusia dan perolehannya di hari akhir kelak. Tujuan surah ini bagi Nabi Muhammad saw adalah dorongan untuk menyiapan mental guna lebih bersungguh-sungguh dalam usaha memberi peringatan Di samping itu, untuk memantapkan keyakinan tentang keniscayaan Kiamat guna menghindar dari ancaman siksa yang bakal terjadi di sana.
Surah Al-Jinn

Surah Al-Jin terdiri dari 28 ayat, keseluruhannya turun sebelum Nabi saw berhijrah ke Madinah. Ia diduga turun pada tahun ke sepuluh atau kesebelas dari kenabian, yakni sekitar tiga tahun sebelum hijrah. Namanya “Surah Al-Jinn/Yang tersembunyi” terambil dari uraian surah ini yang berbicara tentang masyarakat jin dan sikap mereka sebelum turunnya Al-Qur’an serta setelah turunnya. Tid

ak ada surah yang berbicara menyangkut hal ini selaian surah ini. Namanya yang lain adalah Surah 'Qul Uhiya Ilayya' yang terambil dari ayat pertamanya.

Tema dan Tujuan Utama Surah

Tema utama surah ini berkisar pada uraian tentang makhluk halus yang bernama Jin yang tercipta dari api dan memiliki sifat dan kemmapuan yang berbeda dengan manusia. Di sini diuraikan pula tentang keragaman sikap mereka terhadap ajaran agama dan bahwa sebagian mereka percaya kepada Keesaan Allah swt, Keniscayaan Kiamat, dan Kebenaran Alquran yang mengagumkan mereka.

Surah ini bertujuan utama meluruskan kepercayaan keliru sebagian orang yang menduga bahwa jin memunyai kemampuan luar biasa sehingga berusaha berhubungan dan mematuhinya, padahal kepatuhan kepada jin tidak membuahkan kecuali kesulitan dan kemudharatan. Di samping itu, ia juga bertujuan menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad saw yang ajarannya melampaui jenis manusia, bahkan disambut baik oleh jin.

Intisari Kandungan Ayat 1-5

Surah yang lalu berbicara tentang Nabi Nuh as yang merupakan Rasul pertama yang diutus oleh Allah swt kepada masyarakat manusia. Surah ini berbicara tentang Rasul terakhir yang diutus Allah bukan saja kepada masyarakat manusia, tetapi juga kepada masyarakat jin. Di sisi lain, meskipun masa berdakwah Nabi Muhammad saw di pentas bumi hanya sekitar 23 tahun, jauh lebih singkat daripada masa yang digunakan Nabi Nuh as (950 tahun), namun umat Nabi Muhammad saw berlipat ganda jumlahnya ketimbang umat Nabi Nuh as. Ini menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad saw dan Al-Qur'an yang beliau sampaikan. Karena itulah agaknya maka ayat pertama surah ini memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan kepada manusia seluruhnya, khususnya yang mengingkari kerasulan beliau bahwa: “Telah diwahyukan kepadaku, yakni oleh Allah swt melalui malaikat Jibril dan dengan cara tersembunyi, bahwa: Sekelompok jin telah mendengarkan dengan tekun bacaanku terhadap ayat-ayat Al-Qur'an ketika aku membacanya, yakni di Bathn Makkah, satu tempat antara Thaif dan Makkah, saat aku melaksnakan shalat subuh, lalu para jin itu berkata kepada kaumnya, setelah mereka kembali ke tempat mereka, bahwa: “Sungguh kami telah mendengarkan bacaan sempurna yang sangat indah lagi menakjubkan kata-kata dan kandungannya. Kami belum pernah mendengar bacaan seindah itu [1].

Bacaan itu memberi petunjuk dengan jelas, lagi lemah lembut ke jalan yang benar. Kami sadar bahwa bacaan itu tidak mungkin hasil buatan makhluk. Ia pasti merupakan firman Allah Yang Maha Esa, maka kami semua yang mendengarnya beriman kepadanya dan kami sekali-kali sejak saat ini tidak lagi akan menyekutukan sesuatu dengan Tuhan Pemelihara dan Pembimbing kami yang menurunkan bacaan mulia itu [2].

Tuhan Kita Maha Tinggi, Maha Agung, dan Maha Kaya, sehingga tidak terjangkau oleh siapa dan apa pun. Dia tidak mengambil seorang istri dan tidak juga seorang anak pun [3].

Ayat 4 dan 5 merekam kecaman jin terhadap sejenisnya yang durhaka dengan menyatakan bahwa: “Yang picik dan kurang berakal dari kaum kami atau secara khusus Iblis, selalu mengatakan terhadap Allah swt Yang Maha Esa dan Maha Suci itu perkataan yang melampaui batas” [4], yakni seperti bahwa Tuhan memiliki sekutu, atau anak dan istri.

Selanjutnya ayat 5 menjelaskan sebab keteperdayaan dan kesesatan sebagian mereka dengan menyatakan bahwa: “Sungguh, ada di antara kami yang teperdaya karena kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan terhadap Allah swt suatu kebohongan” [5]. Tetapi, kini kami mengetahui bahwa mereka berbohong setelah mendengar ayat-ayat Al-Qur'an.
Surah Nuh

Surah Nuh terdiri dari 28 ayat, keseluruhannya turun sebelum Nabi Muhammad saw berhijrah ke Madinah.

Nama “Surah Nuh” dikenal luas dalam kitab-kitab tafsir serta tercantum pula dalam Mushaf yang dicetak/ditulis oleh berbagai sumber. Nama tersebut diambil dari ayatnya yang pertama yang berbicara tentang Nabi Nuh as.

Tema dan Tujuan Utama Surah

Tema utama surah ini adalah tentang Nabi 
Nuh as, sebagaimana dipahami dari namanya, walau uraiannya tentang kisah Nabi Nuh as hanya sebagian kecil jika dibanding dengan beberapa uraian lain dalam surah-surah yang lain. Kisahnya di sini hanya yang berkaitan dengan dakwah dan cara-cara yang beliau tempuh.

Dapat dikatakan bahwa tujuan utama surah ini adalah memperingatkan kaum musyrik Mekkah tentang bahaya yang dapat menimpa mereka, sebagaimana yang menimpa kaum musyrik umat Nabi Nuh as.

Surah ini juga bertujuan mengajar umat Islam tentang bagaimana seharusnya berdakwah serta bagaimana cara-cara yang dapat ditempuh untuk suksesnya dakwah.

Inti Sari Kandungan Ayat 1-4

Surah yang lalu diakhiri dengan ancaman kepada orang-orang musyrik Mekkah yang menyembah berhala tentang siksa duniawi dan ukhrawi yang dapat mereka alami. Awal surah ini menguraikan kisah Nabi Nuh as bersama umat beliau untuk mengingatkan setiap pembangkang tentang ancaman siksa Ilahi. Ayatnya yang pertama dimulai dengan menyatakan bahwa: Sungguh Kami/Allah swt telah mengutus Nabi Nuh as sebagai rasul pertama kepada kaumnya yang demikian kuat sambil memerintahkan: “Peringatkanlah kaummu akan ancaman Allah swt. atas kekufuran dan kemusyrikan mereka sebelum datang kepada mereka siksa yang pedih” [1].

Memperkenankan perintah Allah swt itu, Nabi Nuh as berkata sambil mengingatkan hubungan beliau dengan mereka sebagai salah seorang anggota kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya aku diutus kepada kamu untuk menjadi pemberi peringatan yang menjelaskan tentang adanya siksa yang pedih jika kamu mengabaikan tuntunan-Nya [2].

Peringatan iu adalah: Sembahlah Allah swt dan bertakwalah kepada-Nya, yakni hindari siksa-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan taatlah kepadaku, yakni karena aku dipilih-Nya sebagai utusan-Nya [3].

Jika kamu bertakwa dan taat kepadaku, niscaya Allah swt atas rahmat dan karunia-Nya akan mengampuni sebagian dosa-dosa kamu dan menangguhkan kamu, yakni memanjangkan usia kamu guna kemaslahatan kamu sampai ke waktu yang ditentukan bagi kematian setiap orang dari kamu. Kalau tidak demikian, maka Allah swt akan menjatuhkan siksa yang membinasakan kamu semua sekaligus. Sesungguhnya ketetapan Allah swt apabila telah datang, maka ia tidak dapat ditangguhkan. Kalau kamu mengetahui tentang hal-hal tersebut, niscaya kamu akan taat kepada Allah swt. dan mematuhi tuntunanku [4].
Surah Al-Qalam

Surah Al-Qalam, terdiri dari 52 ayat. Mayoritas ulama berpendapat, keseluruhan ayatnya Makkiyah, yakni turun sebelum Nabi Muhammad saw berhijrah ke Madinah. Beberapa riwayat mengecualikan sekian ayat. Riwayat yang dinisbahkan kepada sahabat Ibnu Abbas ra ini menyatakan bahwa awal surah ini sampai dengan ayat 16 adalah Makkiyah, lalu ayat 17 sampai dengan ayat 33 Madaniyah, selanjut

nya ayat 34 sampai dengan 47 adalah Makkiyah lagi, dan selebihnya adalah Madaniyah lagi.

Namanya yang populer adalah Surah Al-Qalam dan juga Surah Nun. Ada juga yang menggabung kedua kata itu sehingga menamainya Surah Nun wa Al-Qalam. Kesemua nama itu bersumber dari ayat pertama surah ini.

Banyak riwayat yang menyatakan bahwa awal surah ini merupakan wahyu kedua yang diterima Nabi saw, sesudahnya adalah surah Al-Muzzammil, baru kemudian Al-Muddatstsir. Sebagian mereka yang berpendapat demikian, menyatakan penafian kegilaan yang ditegaskan oleh ayat 3 surah ini bukanlah karena adanya tuduhan kaum musyrik terhadap Nabi Muhammad saw, tetapi lahir dari perasaan atau rasa takut Nabi Muhammad saw sendiri ketika menerima wahyu pertama. Nah, perasaan itulah yang dinafikan sehingga sangat wajar jika awal surah ini merupakan surah kedua yang beliau terima.

Riwayat yang dinilai lebih kuat adalah yang menyatakan bahwa surah kedua yang diterima Nabi saw adalah surah Al- Muddatstsir. Ada juga ulama yang menolak riwayat-riwayat di atas dengan berbagai alasan.

Betapapun dapat diduga keras bahwa surah ini merupakan salah satu surah awal yang diterima Nabi saw dan itu setelah sekian lama beliau berdakwah dan menerima penolakan dari masyarakat Mekkah. Bagi Nabi saw, surah ini menenangkan hati dan menghibur beliau yang dicerca dengan aneka cercaan. Juga menguatkan hati beliau melalui janji Allah swt serta pujian-Nya atas akhlak luhur beliau sambil mengingatkan agar tidak melunakkan sikap menghadapi kaum musyrik Mekkah.

Intisari Kandungan Surah Al-Qalam Ayat 1-7

Akhir surah yang lalu (Al-Mulk), satu ayat sebelum menutupnya, berbicara tentang dua kelompok yang bertolak belakang; satu akan dibinasakan Allah swt dan yang lainnya diselamatkan tanpa menyebut sifat-sifat mereka. Pada awal surah ini, setelah bersumpah dengan Nun dan Al-Qalam, Allah swt menjelaskan siapa yang meraih keberuntungan dan ganjaran yang tidak putus-putusnya serta siapa pula yang akan menemukan sanksi Allah swt.

Allah swt berfirman: Nun. Demi Qalam, yakni demi pena yang biasa digunakan untuk menulis oleh malaikat atau oleh siapa pun, dan juga demi apa yang mereka tulis [1]. Bukanlah engkau berkat nikmat Tuhan Pemeliharamu, wahai Nabi Muhamad saw, seorang yang mengindap sedikit kegilaan [2]. dan sesungguhnya telah tersedia untukmu secara khusus ganjaran yang besar yang tidak putus-putusnya, atas jerih payah dan kesungguhanmu menyampaikan dan mengajarkan wahyu Ilahi [3]. Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung [4].

Ayat-ayat berikut mengukuhkan kandungan ayat-ayat yang lalu, Ayat 5 menyatakan bahwa: Nanti, dalam waktu yang dekat, engkau wahai Nabi Muhammad saw akan melihat serta mengetahui pula dan mereka orang-orang kafir itu pun akan melihat dan mengetahui pula [5] siapa di antara kamu yang sesat dan gila [6]. Sesungguhnya Tuhan Pemelihara dan Pembimbingmu, wahai Nabi Muhammad saw, Dialah saja Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya serta siapa yang gila dan kacau pikirannya. Allah swt saja Yang Paling Mengetahui Al-Muhtadin, yakni orang-orang yang mengikuti dan mengamalkan secara mantap petunjuk Allah swt. [7].
Waktu-waktu untuk berdoa, ialah:

1 Pada bulan Ramadhan, terutama pada malam Lailatul Qadar.
2 Pada waktu wukuf di 'Arafah, ketika menunaikan ibadah haji.
3 Ketika turun hujan.
4 Ketika akan memulai shalat dan sesudahnya.
5 Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan.
6 Di tengah malam.
7 Di antara adzan dan iqamat.
8 Ketika I'tidal yang akhir dalam shalat.
9 Ketika sujud dalam shalat.
10 Ketika khatam (tamat) membaca Al-Quran 30 Juz.
11 Sepanjang malam, utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur.
12 Sepanjang hari Jumat, karena mengharap berjumpa dengan saat ijabah (saat diperkenankan doa) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jumat itu.
13 Antafa Dzuhur dengan 'Ashar dan antara 'Ashar dengan Maghrib.
14 Pada waktu pengajian (belajar) di suatu majelis.
15 Pada waktu minum air zam-zam.