Minggu, 09 September 2012
Surah Al-Haqqah
Surah Al-Haqqah terdiri dari 52 ayat, keseluruhannya turun sebelum Nabi saw berhijrah ke Madinah. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Sayyidina Umar ra berkata: “Suatu ketika di Makkah aku keluar untuk menghadang Rasulullah saw sebelum aku memeluk Islam. Aku mendapati beliau telah mendahuluiku ke Masjidil Haram, maka aku berdiri di belakangnya, lalu kudengar beliau membuka salatnya (den
gan membaca) surah Al-Haqqah. Aku merasa takjub dengan susunan Al-Qur'an. Maka aku berkata (dalam hatiku) “Ini, demi Allah, adalah penyair! Lalu kedengar beliau membaca: “dan bukanlah ia (Al-Qur'an) perkataan seorang penyair” (ayat 41). Lalu, aku berkata (dalam hatiku) “Tukang tenung”. Lalu beliau membaca: “Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya” (ayat 42) sampai akhir surah”.
Nama Al-Haqqah terambil dari kata pertama pada surah ini. Kata ini dipahami dalam arti kepastian terjadinya Hari Kiamat tanpa sedikit keraguan pun atau nampaknya secara jelas hakikat segala sesuatu. Ada juga yang menamainya Surah As-Silsilah/Rantai karena kata tersebut ditemukan pada ayatnya yang ketiga puluh dua. Nama lainnya adalah Al-Wa’iyah, maksudnya Pendengar yang sadar. Nama ini terambil dari kata yang ditemukan pada ayat kedua belas.
Intisari Kandungan Surah Al-Haqqah Ayat 1-12
Surah yang lalu, antara lain, membantah kaum musyrik yang mempersamakan orang yang taat kepada Allah swt dan yang durhaka. Di sana dijelaskan pula tentang hari disingkapnya betis, yakni kedahsyatan situasi pada Hari Kiamat. Nah, awal surah ini berbicara tentang Hari Kiamat dan menekankan tentang keniscayaan serta kedahsyatannya yang tidak tergambar dalam benak. Itu dengan menyatakan: Al-Haqqah, yakni yang pasti kehadirannya, yaitu Hari Kiamat [1]. Apakah Al-Haqqah yang sungguh dahsyat itu? Yakni Engkau, siapa pun engkau, tidak akan dapat mengetahui rincian hakikatnya! [2]. Apakah yang telah menjadikanmu tahu tentang hakikat Al-Haqqah dan kedahsyatannya itu? [3].
Sekian banyak generasi masa lalu yang mengingkari keniscayaan Kiamat. Allah swt tidak membiarkan mereka berlarut dalam kedurhakaan. Allah swt menjatuhkan siksa atas mereka. Ayat-ayat berikut mengungkap sekelumit dari sanksi yang mereka alami itu. Ayat 4 menyatakan: Kaum Tsamud yakni umat Nabi Shaleh as dan ‘Ad umat Nabi Hud as, telah mendustakan Al-Qari'ah, yakni Hari Kiamat [4].
Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan secara amat mudah dengan suara teriakan menggelegar yang luar biasa, yakni suara guntur yang bercampur kilat [5]. Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang [6]. Allah swt menimpakan angin itu atas mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus berembus dengan kencang tanpa henti. Seandainya ketika itu engkau, wahai siapa pun yang berada di sana dan dapat melihat, maka tentu engkau melihat kaum ‘Ad yang cukup kuat itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah lapuk bagian dalamnya [7].
Maka apakah engkau, wahai yang dapat melihat, melihat ada seorang saja di antara mereka yang tersisa? Tidak satu pun di antara mereka yang selamat [8].
Bukan hanya kaum ‘Ad dan Tasamud. Para pendurhaka selain mereka pun disiksa Allah swt. Ayat 9 menyatakan bahwa di samping mereka yang disebut itu, telah datang juga Firaun, yakni Penguasa Mesir masa lalu, yang kepadanya Nabi Musa as diutus, juga kaum yang sebelumnya, yakni seperti kaum Nabi Nuh dan Ibrahim as. serta penduduk negeri-negeri yang dijungkirbalikkan, seperti negeri-negeri yang dihuni oleh kaum Nabi Luth as, semua telah datang dengan membawa kedurhakaan besar [9].
Lalu, masing-masing mereka dengan kedurhakaan itu akhirnya mendurhakai Rasul yang diutus oleh Tuhan Pemelihara mereka, maka akibatnya Allah swt menyiksa mereka dengan mudah dengan siksa yang sangat keras sehingga memunahkan mereka [10].
Tetapi, tidak semua umat yang lalu dibinasakan Allah swt. Yang taat diselamatkan-Nya. Ayat 11 menyatakan: Sesungguhnya Kami/Allah, tatkala air pada masa Nabi Nuh as telah melampaui batas, sehingga naik membubung hingga mencapai puncak gunung, Kami mengangkut kamu dengan memerintahkan kepada Nabi Nuh as agar mengangkut nenek moyang kamu yang membawa benih-benih wujud kamu ke dalam (bahtera) yang berlayar [11], agar Kami menjadikan peristiwa itu, bagi kamu, wahai manusia, sebagai peringatan serta agar diperhatikan oleh telinga yang mau sadar [12].
Surah Al-Haqqah terdiri dari 52 ayat, keseluruhannya turun sebelum Nabi saw berhijrah ke Madinah. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Sayyidina Umar ra berkata: “Suatu ketika di Makkah aku keluar untuk menghadang Rasulullah saw sebelum aku memeluk Islam. Aku mendapati beliau telah mendahuluiku ke Masjidil Haram, maka aku berdiri di belakangnya, lalu kudengar beliau membuka salatnya (den
gan membaca) surah Al-Haqqah. Aku merasa takjub dengan susunan Al-Qur'an. Maka aku berkata (dalam hatiku) “Ini, demi Allah, adalah penyair! Lalu kedengar beliau membaca: “dan bukanlah ia (Al-Qur'an) perkataan seorang penyair” (ayat 41). Lalu, aku berkata (dalam hatiku) “Tukang tenung”. Lalu beliau membaca: “Dan bukan pula perkataan tukang tenung. Sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya” (ayat 42) sampai akhir surah”.
Nama Al-Haqqah terambil dari kata pertama pada surah ini. Kata ini dipahami dalam arti kepastian terjadinya Hari Kiamat tanpa sedikit keraguan pun atau nampaknya secara jelas hakikat segala sesuatu. Ada juga yang menamainya Surah As-Silsilah/Rantai karena kata tersebut ditemukan pada ayatnya yang ketiga puluh dua. Nama lainnya adalah Al-Wa’iyah, maksudnya Pendengar yang sadar. Nama ini terambil dari kata yang ditemukan pada ayat kedua belas.
Intisari Kandungan Surah Al-Haqqah Ayat 1-12
Surah yang lalu, antara lain, membantah kaum musyrik yang mempersamakan orang yang taat kepada Allah swt dan yang durhaka. Di sana dijelaskan pula tentang hari disingkapnya betis, yakni kedahsyatan situasi pada Hari Kiamat. Nah, awal surah ini berbicara tentang Hari Kiamat dan menekankan tentang keniscayaan serta kedahsyatannya yang tidak tergambar dalam benak. Itu dengan menyatakan: Al-Haqqah, yakni yang pasti kehadirannya, yaitu Hari Kiamat [1]. Apakah Al-Haqqah yang sungguh dahsyat itu? Yakni Engkau, siapa pun engkau, tidak akan dapat mengetahui rincian hakikatnya! [2]. Apakah yang telah menjadikanmu tahu tentang hakikat Al-Haqqah dan kedahsyatannya itu? [3].
Sekian banyak generasi masa lalu yang mengingkari keniscayaan Kiamat. Allah swt tidak membiarkan mereka berlarut dalam kedurhakaan. Allah swt menjatuhkan siksa atas mereka. Ayat-ayat berikut mengungkap sekelumit dari sanksi yang mereka alami itu. Ayat 4 menyatakan: Kaum Tsamud yakni umat Nabi Shaleh as dan ‘Ad umat Nabi Hud as, telah mendustakan Al-Qari'ah, yakni Hari Kiamat [4].
Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan secara amat mudah dengan suara teriakan menggelegar yang luar biasa, yakni suara guntur yang bercampur kilat [5]. Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang [6]. Allah swt menimpakan angin itu atas mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus berembus dengan kencang tanpa henti. Seandainya ketika itu engkau, wahai siapa pun yang berada di sana dan dapat melihat, maka tentu engkau melihat kaum ‘Ad yang cukup kuat itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah lapuk bagian dalamnya [7].
Maka apakah engkau, wahai yang dapat melihat, melihat ada seorang saja di antara mereka yang tersisa? Tidak satu pun di antara mereka yang selamat [8].
Bukan hanya kaum ‘Ad dan Tasamud. Para pendurhaka selain mereka pun disiksa Allah swt. Ayat 9 menyatakan bahwa di samping mereka yang disebut itu, telah datang juga Firaun, yakni Penguasa Mesir masa lalu, yang kepadanya Nabi Musa as diutus, juga kaum yang sebelumnya, yakni seperti kaum Nabi Nuh dan Ibrahim as. serta penduduk negeri-negeri yang dijungkirbalikkan, seperti negeri-negeri yang dihuni oleh kaum Nabi Luth as, semua telah datang dengan membawa kedurhakaan besar [9].
Lalu, masing-masing mereka dengan kedurhakaan itu akhirnya mendurhakai Rasul yang diutus oleh Tuhan Pemelihara mereka, maka akibatnya Allah swt menyiksa mereka dengan mudah dengan siksa yang sangat keras sehingga memunahkan mereka [10].
Tetapi, tidak semua umat yang lalu dibinasakan Allah swt. Yang taat diselamatkan-Nya. Ayat 11 menyatakan: Sesungguhnya Kami/Allah, tatkala air pada masa Nabi Nuh as telah melampaui batas, sehingga naik membubung hingga mencapai puncak gunung, Kami mengangkut kamu dengan memerintahkan kepada Nabi Nuh as agar mengangkut nenek moyang kamu yang membawa benih-benih wujud kamu ke dalam (bahtera) yang berlayar [11], agar Kami menjadikan peristiwa itu, bagi kamu, wahai manusia, sebagai peringatan serta agar diperhatikan oleh telinga yang mau sadar [12].
Surah Al-Muddatstsir
Surah Al-Muddatstsir terdiri dari 56 ayat. Keseluruhannya disepakati turun sebelum hijrah. Bahkan ayat satu sampai dengan ayat tujuh dinilai oleh banyak ulama sebagai bagian dari wahyu-wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Ada yang berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut adalah wahyu ketiga atau keempat, bahkan ada yang berpendapat awal surah ini turun setelah turu
nnya lima ayat pertama surah Iqra’. Tetapi ini diperselisihkan oleh ulama.
Namanya “Surah Al-Muddatstsir” merupakan satu-satunya nama bagi kumpulan ayat-ayat ini. 97 Ia terambil dari ayat pertama surah ini, apapagi kata tersebut hanya ditemukan sekali dalam Al-Qur'an, yaitu dalam surah ini. Nama tersebut telah dikenal sejak masa Nabi saw.
Menyelimuti diri atau diselimuti dalam konteks ayat ini bertujuan menghilangkan rasa takut yang meliputi jiwa Nabi Muhammad saw beberapa saat sebelum turunnya ayat-ayat ini. Biasanya, bila seseorang takut, ia akan menutupi dirinya atau ia akan menggigil, dan saat itu selimut akan sangat bermanfaat. Inilah yang terjadi pada diri Nabi Muhammad saw, khususnya pada masa awal kedatangan malaikat Jibril kepada beliau.
Apa pun penyebab rasa takut beliau yang dipahami dari sebab nuzul ayat serta dari celah-celah kata “Al-Muddatstsir”, namun itu sama sekali tidak mengurangi keagungan Rasul saw. Perasaan serupa pernah dialami oleh Nabi Musa as ketika beliau melihat tongkatnya berubah menjadi ular (QS. Thaha [ 20]: 21), bahkan Nabi Musa as “lari ke belakang tanpa menoleh” (QS. An-Naml [27]: 10). Hal-hal semacam ini untuk menggambarkan bahwa para nabi, walaupun memunyai keistimewaan-keistimewaan dari segi spiritual, namun mereka tidak luput dari naluri kemanusiaan, seperti rasa takut.
Di sisi lain, tersirat pula dari kata “Wahai orang yang berselimut” rasa kasih sayang serta “kedekatan” Tuhan kepada pribadi yang diseru itu. Karena, salah satu cara yang digunakan oleh bahasa untuk menggambarkan hal tersebut adalah memanggil seseorang dengan keadaannya sewaktu ia dipanggil.
Tema dan Tujuan Utama Surah
Awal surah ini memberi tuntunan kepada Nabi Muhammad saw guna suksesnya dakwah beliau, lalu disusul dengan uraian tentang persoalan-persoalan akidah, sebagaimana halnya surah-surah yang turun sebelum hijrah. Intinya adalah keniscayaan Kiamat, surga, dan neraka, serta kaitan antara amal manusia dan perolehannya di hari akhir kelak. Tujuan surah ini bagi Nabi Muhammad saw adalah dorongan untuk menyiapan mental guna lebih bersungguh-sungguh dalam usaha memberi peringatan Di samping itu, untuk memantapkan keyakinan tentang keniscayaan Kiamat guna menghindar dari ancaman siksa yang bakal terjadi di sana.
Surah Al-Muddatstsir terdiri dari 56 ayat. Keseluruhannya disepakati turun sebelum hijrah. Bahkan ayat satu sampai dengan ayat tujuh dinilai oleh banyak ulama sebagai bagian dari wahyu-wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. Ada yang berpendapat bahwa ayat-ayat tersebut adalah wahyu ketiga atau keempat, bahkan ada yang berpendapat awal surah ini turun setelah turu
nnya lima ayat pertama surah Iqra’. Tetapi ini diperselisihkan oleh ulama.
Namanya “Surah Al-Muddatstsir” merupakan satu-satunya nama bagi kumpulan ayat-ayat ini. 97 Ia terambil dari ayat pertama surah ini, apapagi kata tersebut hanya ditemukan sekali dalam Al-Qur'an, yaitu dalam surah ini. Nama tersebut telah dikenal sejak masa Nabi saw.
Menyelimuti diri atau diselimuti dalam konteks ayat ini bertujuan menghilangkan rasa takut yang meliputi jiwa Nabi Muhammad saw beberapa saat sebelum turunnya ayat-ayat ini. Biasanya, bila seseorang takut, ia akan menutupi dirinya atau ia akan menggigil, dan saat itu selimut akan sangat bermanfaat. Inilah yang terjadi pada diri Nabi Muhammad saw, khususnya pada masa awal kedatangan malaikat Jibril kepada beliau.
Apa pun penyebab rasa takut beliau yang dipahami dari sebab nuzul ayat serta dari celah-celah kata “Al-Muddatstsir”, namun itu sama sekali tidak mengurangi keagungan Rasul saw. Perasaan serupa pernah dialami oleh Nabi Musa as ketika beliau melihat tongkatnya berubah menjadi ular (QS. Thaha [ 20]: 21), bahkan Nabi Musa as “lari ke belakang tanpa menoleh” (QS. An-Naml [27]: 10). Hal-hal semacam ini untuk menggambarkan bahwa para nabi, walaupun memunyai keistimewaan-keistimewaan dari segi spiritual, namun mereka tidak luput dari naluri kemanusiaan, seperti rasa takut.
Di sisi lain, tersirat pula dari kata “Wahai orang yang berselimut” rasa kasih sayang serta “kedekatan” Tuhan kepada pribadi yang diseru itu. Karena, salah satu cara yang digunakan oleh bahasa untuk menggambarkan hal tersebut adalah memanggil seseorang dengan keadaannya sewaktu ia dipanggil.
Tema dan Tujuan Utama Surah
Awal surah ini memberi tuntunan kepada Nabi Muhammad saw guna suksesnya dakwah beliau, lalu disusul dengan uraian tentang persoalan-persoalan akidah, sebagaimana halnya surah-surah yang turun sebelum hijrah. Intinya adalah keniscayaan Kiamat, surga, dan neraka, serta kaitan antara amal manusia dan perolehannya di hari akhir kelak. Tujuan surah ini bagi Nabi Muhammad saw adalah dorongan untuk menyiapan mental guna lebih bersungguh-sungguh dalam usaha memberi peringatan Di samping itu, untuk memantapkan keyakinan tentang keniscayaan Kiamat guna menghindar dari ancaman siksa yang bakal terjadi di sana.
Surah Al-Jinn
Surah Al-Jin terdiri dari 28 ayat, keseluruhannya turun sebelum Nabi saw berhijrah ke Madinah. Ia diduga turun pada tahun ke sepuluh atau kesebelas dari kenabian, yakni sekitar tiga tahun sebelum hijrah. Namanya “Surah Al-Jinn/Yang tersembunyi” terambil dari uraian surah ini yang berbicara tentang masyarakat jin dan sikap mereka sebelum turunnya Al-Qur’an serta setelah turunnya. Tid
ak ada surah yang berbicara menyangkut hal ini selaian surah ini. Namanya yang lain adalah Surah 'Qul Uhiya Ilayya' yang terambil dari ayat pertamanya.
Tema dan Tujuan Utama Surah
Tema utama surah ini berkisar pada uraian tentang makhluk halus yang bernama Jin yang tercipta dari api dan memiliki sifat dan kemmapuan yang berbeda dengan manusia. Di sini diuraikan pula tentang keragaman sikap mereka terhadap ajaran agama dan bahwa sebagian mereka percaya kepada Keesaan Allah swt, Keniscayaan Kiamat, dan Kebenaran Alquran yang mengagumkan mereka.
Surah ini bertujuan utama meluruskan kepercayaan keliru sebagian orang yang menduga bahwa jin memunyai kemampuan luar biasa sehingga berusaha berhubungan dan mematuhinya, padahal kepatuhan kepada jin tidak membuahkan kecuali kesulitan dan kemudharatan. Di samping itu, ia juga bertujuan menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad saw yang ajarannya melampaui jenis manusia, bahkan disambut baik oleh jin.
Intisari Kandungan Ayat 1-5
Surah yang lalu berbicara tentang Nabi Nuh as yang merupakan Rasul pertama yang diutus oleh Allah swt kepada masyarakat manusia. Surah ini berbicara tentang Rasul terakhir yang diutus Allah bukan saja kepada masyarakat manusia, tetapi juga kepada masyarakat jin. Di sisi lain, meskipun masa berdakwah Nabi Muhammad saw di pentas bumi hanya sekitar 23 tahun, jauh lebih singkat daripada masa yang digunakan Nabi Nuh as (950 tahun), namun umat Nabi Muhammad saw berlipat ganda jumlahnya ketimbang umat Nabi Nuh as. Ini menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad saw dan Al-Qur'an yang beliau sampaikan. Karena itulah agaknya maka ayat pertama surah ini memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan kepada manusia seluruhnya, khususnya yang mengingkari kerasulan beliau bahwa: “Telah diwahyukan kepadaku, yakni oleh Allah swt melalui malaikat Jibril dan dengan cara tersembunyi, bahwa: Sekelompok jin telah mendengarkan dengan tekun bacaanku terhadap ayat-ayat Al-Qur'an ketika aku membacanya, yakni di Bathn Makkah, satu tempat antara Thaif dan Makkah, saat aku melaksnakan shalat subuh, lalu para jin itu berkata kepada kaumnya, setelah mereka kembali ke tempat mereka, bahwa: “Sungguh kami telah mendengarkan bacaan sempurna yang sangat indah lagi menakjubkan kata-kata dan kandungannya. Kami belum pernah mendengar bacaan seindah itu [1].
Bacaan itu memberi petunjuk dengan jelas, lagi lemah lembut ke jalan yang benar. Kami sadar bahwa bacaan itu tidak mungkin hasil buatan makhluk. Ia pasti merupakan firman Allah Yang Maha Esa, maka kami semua yang mendengarnya beriman kepadanya dan kami sekali-kali sejak saat ini tidak lagi akan menyekutukan sesuatu dengan Tuhan Pemelihara dan Pembimbing kami yang menurunkan bacaan mulia itu [2].
Tuhan Kita Maha Tinggi, Maha Agung, dan Maha Kaya, sehingga tidak terjangkau oleh siapa dan apa pun. Dia tidak mengambil seorang istri dan tidak juga seorang anak pun [3].
Ayat 4 dan 5 merekam kecaman jin terhadap sejenisnya yang durhaka dengan menyatakan bahwa: “Yang picik dan kurang berakal dari kaum kami atau secara khusus Iblis, selalu mengatakan terhadap Allah swt Yang Maha Esa dan Maha Suci itu perkataan yang melampaui batas” [4], yakni seperti bahwa Tuhan memiliki sekutu, atau anak dan istri.
Selanjutnya ayat 5 menjelaskan sebab keteperdayaan dan kesesatan sebagian mereka dengan menyatakan bahwa: “Sungguh, ada di antara kami yang teperdaya karena kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan terhadap Allah swt suatu kebohongan” [5]. Tetapi, kini kami mengetahui bahwa mereka berbohong setelah mendengar ayat-ayat Al-Qur'an.
Surah Al-Jin terdiri dari 28 ayat, keseluruhannya turun sebelum Nabi saw berhijrah ke Madinah. Ia diduga turun pada tahun ke sepuluh atau kesebelas dari kenabian, yakni sekitar tiga tahun sebelum hijrah. Namanya “Surah Al-Jinn/Yang tersembunyi” terambil dari uraian surah ini yang berbicara tentang masyarakat jin dan sikap mereka sebelum turunnya Al-Qur’an serta setelah turunnya. Tid
ak ada surah yang berbicara menyangkut hal ini selaian surah ini. Namanya yang lain adalah Surah 'Qul Uhiya Ilayya' yang terambil dari ayat pertamanya.
Tema dan Tujuan Utama Surah
Tema utama surah ini berkisar pada uraian tentang makhluk halus yang bernama Jin yang tercipta dari api dan memiliki sifat dan kemmapuan yang berbeda dengan manusia. Di sini diuraikan pula tentang keragaman sikap mereka terhadap ajaran agama dan bahwa sebagian mereka percaya kepada Keesaan Allah swt, Keniscayaan Kiamat, dan Kebenaran Alquran yang mengagumkan mereka.
Surah ini bertujuan utama meluruskan kepercayaan keliru sebagian orang yang menduga bahwa jin memunyai kemampuan luar biasa sehingga berusaha berhubungan dan mematuhinya, padahal kepatuhan kepada jin tidak membuahkan kecuali kesulitan dan kemudharatan. Di samping itu, ia juga bertujuan menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad saw yang ajarannya melampaui jenis manusia, bahkan disambut baik oleh jin.
Intisari Kandungan Ayat 1-5
Surah yang lalu berbicara tentang Nabi Nuh as yang merupakan Rasul pertama yang diutus oleh Allah swt kepada masyarakat manusia. Surah ini berbicara tentang Rasul terakhir yang diutus Allah bukan saja kepada masyarakat manusia, tetapi juga kepada masyarakat jin. Di sisi lain, meskipun masa berdakwah Nabi Muhammad saw di pentas bumi hanya sekitar 23 tahun, jauh lebih singkat daripada masa yang digunakan Nabi Nuh as (950 tahun), namun umat Nabi Muhammad saw berlipat ganda jumlahnya ketimbang umat Nabi Nuh as. Ini menunjukkan keutamaan Nabi Muhammad saw dan Al-Qur'an yang beliau sampaikan. Karena itulah agaknya maka ayat pertama surah ini memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan kepada manusia seluruhnya, khususnya yang mengingkari kerasulan beliau bahwa: “Telah diwahyukan kepadaku, yakni oleh Allah swt melalui malaikat Jibril dan dengan cara tersembunyi, bahwa: Sekelompok jin telah mendengarkan dengan tekun bacaanku terhadap ayat-ayat Al-Qur'an ketika aku membacanya, yakni di Bathn Makkah, satu tempat antara Thaif dan Makkah, saat aku melaksnakan shalat subuh, lalu para jin itu berkata kepada kaumnya, setelah mereka kembali ke tempat mereka, bahwa: “Sungguh kami telah mendengarkan bacaan sempurna yang sangat indah lagi menakjubkan kata-kata dan kandungannya. Kami belum pernah mendengar bacaan seindah itu [1].
Bacaan itu memberi petunjuk dengan jelas, lagi lemah lembut ke jalan yang benar. Kami sadar bahwa bacaan itu tidak mungkin hasil buatan makhluk. Ia pasti merupakan firman Allah Yang Maha Esa, maka kami semua yang mendengarnya beriman kepadanya dan kami sekali-kali sejak saat ini tidak lagi akan menyekutukan sesuatu dengan Tuhan Pemelihara dan Pembimbing kami yang menurunkan bacaan mulia itu [2].
Tuhan Kita Maha Tinggi, Maha Agung, dan Maha Kaya, sehingga tidak terjangkau oleh siapa dan apa pun. Dia tidak mengambil seorang istri dan tidak juga seorang anak pun [3].
Ayat 4 dan 5 merekam kecaman jin terhadap sejenisnya yang durhaka dengan menyatakan bahwa: “Yang picik dan kurang berakal dari kaum kami atau secara khusus Iblis, selalu mengatakan terhadap Allah swt Yang Maha Esa dan Maha Suci itu perkataan yang melampaui batas” [4], yakni seperti bahwa Tuhan memiliki sekutu, atau anak dan istri.
Selanjutnya ayat 5 menjelaskan sebab keteperdayaan dan kesesatan sebagian mereka dengan menyatakan bahwa: “Sungguh, ada di antara kami yang teperdaya karena kami mengira bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan terhadap Allah swt suatu kebohongan” [5]. Tetapi, kini kami mengetahui bahwa mereka berbohong setelah mendengar ayat-ayat Al-Qur'an.
Surah Nuh
Surah Nuh terdiri dari 28 ayat, keseluruhannya turun sebelum Nabi Muhammad saw berhijrah ke Madinah.
Nama “Surah Nuh” dikenal luas dalam kitab-kitab tafsir serta tercantum pula dalam Mushaf yang dicetak/ditulis oleh berbagai sumber. Nama tersebut diambil dari ayatnya yang pertama yang berbicara tentang Nabi Nuh as.
Tema dan Tujuan Utama Surah
Tema utama surah ini adalah tentang Nabi
Surah Nuh terdiri dari 28 ayat, keseluruhannya turun sebelum Nabi Muhammad saw berhijrah ke Madinah.
Nama “Surah Nuh” dikenal luas dalam kitab-kitab tafsir serta tercantum pula dalam Mushaf yang dicetak/ditulis oleh berbagai sumber. Nama tersebut diambil dari ayatnya yang pertama yang berbicara tentang Nabi Nuh as.
Tema dan Tujuan Utama Surah
Tema utama surah ini adalah tentang Nabi
Nuh as, sebagaimana dipahami dari namanya, walau uraiannya tentang kisah Nabi Nuh as hanya sebagian kecil jika dibanding dengan beberapa uraian lain dalam surah-surah yang lain. Kisahnya di sini hanya yang berkaitan dengan dakwah dan cara-cara yang beliau tempuh.
Dapat dikatakan bahwa tujuan utama surah ini adalah memperingatkan kaum musyrik Mekkah tentang bahaya yang dapat menimpa mereka, sebagaimana yang menimpa kaum musyrik umat Nabi Nuh as.
Surah ini juga bertujuan mengajar umat Islam tentang bagaimana seharusnya berdakwah serta bagaimana cara-cara yang dapat ditempuh untuk suksesnya dakwah.
Inti Sari Kandungan Ayat 1-4
Surah yang lalu diakhiri dengan ancaman kepada orang-orang musyrik Mekkah yang menyembah berhala tentang siksa duniawi dan ukhrawi yang dapat mereka alami. Awal surah ini menguraikan kisah Nabi Nuh as bersama umat beliau untuk mengingatkan setiap pembangkang tentang ancaman siksa Ilahi. Ayatnya yang pertama dimulai dengan menyatakan bahwa: Sungguh Kami/Allah swt telah mengutus Nabi Nuh as sebagai rasul pertama kepada kaumnya yang demikian kuat sambil memerintahkan: “Peringatkanlah kaummu akan ancaman Allah swt. atas kekufuran dan kemusyrikan mereka sebelum datang kepada mereka siksa yang pedih” [1].
Memperkenankan perintah Allah swt itu, Nabi Nuh as berkata sambil mengingatkan hubungan beliau dengan mereka sebagai salah seorang anggota kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya aku diutus kepada kamu untuk menjadi pemberi peringatan yang menjelaskan tentang adanya siksa yang pedih jika kamu mengabaikan tuntunan-Nya [2].
Peringatan iu adalah: Sembahlah Allah swt dan bertakwalah kepada-Nya, yakni hindari siksa-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan taatlah kepadaku, yakni karena aku dipilih-Nya sebagai utusan-Nya [3].
Jika kamu bertakwa dan taat kepadaku, niscaya Allah swt atas rahmat dan karunia-Nya akan mengampuni sebagian dosa-dosa kamu dan menangguhkan kamu, yakni memanjangkan usia kamu guna kemaslahatan kamu sampai ke waktu yang ditentukan bagi kematian setiap orang dari kamu. Kalau tidak demikian, maka Allah swt akan menjatuhkan siksa yang membinasakan kamu semua sekaligus. Sesungguhnya ketetapan Allah swt apabila telah datang, maka ia tidak dapat ditangguhkan. Kalau kamu mengetahui tentang hal-hal tersebut, niscaya kamu akan taat kepada Allah swt. dan mematuhi tuntunanku [4].
Dapat dikatakan bahwa tujuan utama surah ini adalah memperingatkan kaum musyrik Mekkah tentang bahaya yang dapat menimpa mereka, sebagaimana yang menimpa kaum musyrik umat Nabi Nuh as.
Surah ini juga bertujuan mengajar umat Islam tentang bagaimana seharusnya berdakwah serta bagaimana cara-cara yang dapat ditempuh untuk suksesnya dakwah.
Inti Sari Kandungan Ayat 1-4
Surah yang lalu diakhiri dengan ancaman kepada orang-orang musyrik Mekkah yang menyembah berhala tentang siksa duniawi dan ukhrawi yang dapat mereka alami. Awal surah ini menguraikan kisah Nabi Nuh as bersama umat beliau untuk mengingatkan setiap pembangkang tentang ancaman siksa Ilahi. Ayatnya yang pertama dimulai dengan menyatakan bahwa: Sungguh Kami/Allah swt telah mengutus Nabi Nuh as sebagai rasul pertama kepada kaumnya yang demikian kuat sambil memerintahkan: “Peringatkanlah kaummu akan ancaman Allah swt. atas kekufuran dan kemusyrikan mereka sebelum datang kepada mereka siksa yang pedih” [1].
Memperkenankan perintah Allah swt itu, Nabi Nuh as berkata sambil mengingatkan hubungan beliau dengan mereka sebagai salah seorang anggota kaumnya: “Hai kaumku, sesungguhnya aku diutus kepada kamu untuk menjadi pemberi peringatan yang menjelaskan tentang adanya siksa yang pedih jika kamu mengabaikan tuntunan-Nya [2].
Peringatan iu adalah: Sembahlah Allah swt dan bertakwalah kepada-Nya, yakni hindari siksa-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dan taatlah kepadaku, yakni karena aku dipilih-Nya sebagai utusan-Nya [3].
Jika kamu bertakwa dan taat kepadaku, niscaya Allah swt atas rahmat dan karunia-Nya akan mengampuni sebagian dosa-dosa kamu dan menangguhkan kamu, yakni memanjangkan usia kamu guna kemaslahatan kamu sampai ke waktu yang ditentukan bagi kematian setiap orang dari kamu. Kalau tidak demikian, maka Allah swt akan menjatuhkan siksa yang membinasakan kamu semua sekaligus. Sesungguhnya ketetapan Allah swt apabila telah datang, maka ia tidak dapat ditangguhkan. Kalau kamu mengetahui tentang hal-hal tersebut, niscaya kamu akan taat kepada Allah swt. dan mematuhi tuntunanku [4].
Surah Al-Qalam
Surah Al-Qalam, terdiri dari 52 ayat. Mayoritas ulama berpendapat, keseluruhan ayatnya Makkiyah, yakni turun sebelum Nabi Muhammad saw berhijrah ke Madinah. Beberapa riwayat mengecualikan sekian ayat. Riwayat yang dinisbahkan kepada sahabat Ibnu Abbas ra ini menyatakan bahwa awal surah ini sampai dengan ayat 16 adalah Makkiyah, lalu ayat 17 sampai dengan ayat 33 Madaniyah, selanjut
nya ayat 34 sampai dengan 47 adalah Makkiyah lagi, dan selebihnya adalah Madaniyah lagi.
Namanya yang populer adalah Surah Al-Qalam dan juga Surah Nun. Ada juga yang menggabung kedua kata itu sehingga menamainya Surah Nun wa Al-Qalam. Kesemua nama itu bersumber dari ayat pertama surah ini.
Banyak riwayat yang menyatakan bahwa awal surah ini merupakan wahyu kedua yang diterima Nabi saw, sesudahnya adalah surah Al-Muzzammil, baru kemudian Al-Muddatstsir. Sebagian mereka yang berpendapat demikian, menyatakan penafian kegilaan yang ditegaskan oleh ayat 3 surah ini bukanlah karena adanya tuduhan kaum musyrik terhadap Nabi Muhammad saw, tetapi lahir dari perasaan atau rasa takut Nabi Muhammad saw sendiri ketika menerima wahyu pertama. Nah, perasaan itulah yang dinafikan sehingga sangat wajar jika awal surah ini merupakan surah kedua yang beliau terima.
Riwayat yang dinilai lebih kuat adalah yang menyatakan bahwa surah kedua yang diterima Nabi saw adalah surah Al- Muddatstsir. Ada juga ulama yang menolak riwayat-riwayat di atas dengan berbagai alasan.
Betapapun dapat diduga keras bahwa surah ini merupakan salah satu surah awal yang diterima Nabi saw dan itu setelah sekian lama beliau berdakwah dan menerima penolakan dari masyarakat Mekkah. Bagi Nabi saw, surah ini menenangkan hati dan menghibur beliau yang dicerca dengan aneka cercaan. Juga menguatkan hati beliau melalui janji Allah swt serta pujian-Nya atas akhlak luhur beliau sambil mengingatkan agar tidak melunakkan sikap menghadapi kaum musyrik Mekkah.
Intisari Kandungan Surah Al-Qalam Ayat 1-7
Akhir surah yang lalu (Al-Mulk), satu ayat sebelum menutupnya, berbicara tentang dua kelompok yang bertolak belakang; satu akan dibinasakan Allah swt dan yang lainnya diselamatkan tanpa menyebut sifat-sifat mereka. Pada awal surah ini, setelah bersumpah dengan Nun dan Al-Qalam, Allah swt menjelaskan siapa yang meraih keberuntungan dan ganjaran yang tidak putus-putusnya serta siapa pula yang akan menemukan sanksi Allah swt.
Allah swt berfirman: Nun. Demi Qalam, yakni demi pena yang biasa digunakan untuk menulis oleh malaikat atau oleh siapa pun, dan juga demi apa yang mereka tulis [1]. Bukanlah engkau berkat nikmat Tuhan Pemeliharamu, wahai Nabi Muhamad saw, seorang yang mengindap sedikit kegilaan [2]. dan sesungguhnya telah tersedia untukmu secara khusus ganjaran yang besar yang tidak putus-putusnya, atas jerih payah dan kesungguhanmu menyampaikan dan mengajarkan wahyu Ilahi [3]. Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung [4].
Ayat-ayat berikut mengukuhkan kandungan ayat-ayat yang lalu, Ayat 5 menyatakan bahwa: Nanti, dalam waktu yang dekat, engkau wahai Nabi Muhammad saw akan melihat serta mengetahui pula dan mereka orang-orang kafir itu pun akan melihat dan mengetahui pula [5] siapa di antara kamu yang sesat dan gila [6]. Sesungguhnya Tuhan Pemelihara dan Pembimbingmu, wahai Nabi Muhammad saw, Dialah saja Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya serta siapa yang gila dan kacau pikirannya. Allah swt saja Yang Paling Mengetahui Al-Muhtadin, yakni orang-orang yang mengikuti dan mengamalkan secara mantap petunjuk Allah swt. [7].
Surah Al-Qalam, terdiri dari 52 ayat. Mayoritas ulama berpendapat, keseluruhan ayatnya Makkiyah, yakni turun sebelum Nabi Muhammad saw berhijrah ke Madinah. Beberapa riwayat mengecualikan sekian ayat. Riwayat yang dinisbahkan kepada sahabat Ibnu Abbas ra ini menyatakan bahwa awal surah ini sampai dengan ayat 16 adalah Makkiyah, lalu ayat 17 sampai dengan ayat 33 Madaniyah, selanjut
nya ayat 34 sampai dengan 47 adalah Makkiyah lagi, dan selebihnya adalah Madaniyah lagi.
Namanya yang populer adalah Surah Al-Qalam dan juga Surah Nun. Ada juga yang menggabung kedua kata itu sehingga menamainya Surah Nun wa Al-Qalam. Kesemua nama itu bersumber dari ayat pertama surah ini.
Banyak riwayat yang menyatakan bahwa awal surah ini merupakan wahyu kedua yang diterima Nabi saw, sesudahnya adalah surah Al-Muzzammil, baru kemudian Al-Muddatstsir. Sebagian mereka yang berpendapat demikian, menyatakan penafian kegilaan yang ditegaskan oleh ayat 3 surah ini bukanlah karena adanya tuduhan kaum musyrik terhadap Nabi Muhammad saw, tetapi lahir dari perasaan atau rasa takut Nabi Muhammad saw sendiri ketika menerima wahyu pertama. Nah, perasaan itulah yang dinafikan sehingga sangat wajar jika awal surah ini merupakan surah kedua yang beliau terima.
Riwayat yang dinilai lebih kuat adalah yang menyatakan bahwa surah kedua yang diterima Nabi saw adalah surah Al- Muddatstsir. Ada juga ulama yang menolak riwayat-riwayat di atas dengan berbagai alasan.
Betapapun dapat diduga keras bahwa surah ini merupakan salah satu surah awal yang diterima Nabi saw dan itu setelah sekian lama beliau berdakwah dan menerima penolakan dari masyarakat Mekkah. Bagi Nabi saw, surah ini menenangkan hati dan menghibur beliau yang dicerca dengan aneka cercaan. Juga menguatkan hati beliau melalui janji Allah swt serta pujian-Nya atas akhlak luhur beliau sambil mengingatkan agar tidak melunakkan sikap menghadapi kaum musyrik Mekkah.
Intisari Kandungan Surah Al-Qalam Ayat 1-7
Akhir surah yang lalu (Al-Mulk), satu ayat sebelum menutupnya, berbicara tentang dua kelompok yang bertolak belakang; satu akan dibinasakan Allah swt dan yang lainnya diselamatkan tanpa menyebut sifat-sifat mereka. Pada awal surah ini, setelah bersumpah dengan Nun dan Al-Qalam, Allah swt menjelaskan siapa yang meraih keberuntungan dan ganjaran yang tidak putus-putusnya serta siapa pula yang akan menemukan sanksi Allah swt.
Allah swt berfirman: Nun. Demi Qalam, yakni demi pena yang biasa digunakan untuk menulis oleh malaikat atau oleh siapa pun, dan juga demi apa yang mereka tulis [1]. Bukanlah engkau berkat nikmat Tuhan Pemeliharamu, wahai Nabi Muhamad saw, seorang yang mengindap sedikit kegilaan [2]. dan sesungguhnya telah tersedia untukmu secara khusus ganjaran yang besar yang tidak putus-putusnya, atas jerih payah dan kesungguhanmu menyampaikan dan mengajarkan wahyu Ilahi [3]. Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung [4].
Ayat-ayat berikut mengukuhkan kandungan ayat-ayat yang lalu, Ayat 5 menyatakan bahwa: Nanti, dalam waktu yang dekat, engkau wahai Nabi Muhammad saw akan melihat serta mengetahui pula dan mereka orang-orang kafir itu pun akan melihat dan mengetahui pula [5] siapa di antara kamu yang sesat dan gila [6]. Sesungguhnya Tuhan Pemelihara dan Pembimbingmu, wahai Nabi Muhammad saw, Dialah saja Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya serta siapa yang gila dan kacau pikirannya. Allah swt saja Yang Paling Mengetahui Al-Muhtadin, yakni orang-orang yang mengikuti dan mengamalkan secara mantap petunjuk Allah swt. [7].
Waktu-waktu untuk berdoa, ialah:
1 Pada bulan Ramadhan, terutama pada malam Lailatul Qadar.
2 Pada waktu wukuf di 'Arafah, ketika menunaikan ibadah haji.
3 Ketika turun hujan.
4 Ketika akan memulai shalat dan sesudahnya.
5 Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan.
6 Di tengah malam.
7 Di antara adzan dan iqamat.
8 Ketika I'tidal yang akhir dalam shalat.
1 Pada bulan Ramadhan, terutama pada malam Lailatul Qadar.
2 Pada waktu wukuf di 'Arafah, ketika menunaikan ibadah haji.
3 Ketika turun hujan.
4 Ketika akan memulai shalat dan sesudahnya.
5 Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan.
6 Di tengah malam.
7 Di antara adzan dan iqamat.
8 Ketika I'tidal yang akhir dalam shalat.
9 Ketika sujud dalam shalat.
10 Ketika khatam (tamat) membaca Al-Quran 30 Juz.
11 Sepanjang malam, utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur.
12 Sepanjang hari Jumat, karena mengharap berjumpa dengan saat ijabah (saat diperkenankan doa) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jumat itu.
13 Antafa Dzuhur dengan 'Ashar dan antara 'Ashar dengan Maghrib.
14 Pada waktu pengajian (belajar) di suatu majelis.
15 Pada waktu minum air zam-zam.
10 Ketika khatam (tamat) membaca Al-Quran 30 Juz.
11 Sepanjang malam, utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur.
12 Sepanjang hari Jumat, karena mengharap berjumpa dengan saat ijabah (saat diperkenankan doa) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jumat itu.
13 Antafa Dzuhur dengan 'Ashar dan antara 'Ashar dengan Maghrib.
14 Pada waktu pengajian (belajar) di suatu majelis.
15 Pada waktu minum air zam-zam.
Langganan:
Postingan (Atom)